Sunday, Nov 27, 2022
newspaper logo

Peluang dan Tantangan Pengembangan Ekosistem Battery, Electrical Vihicle Dan Solar PV Rooftop Di Indonesia

433 Views

Sinergimas - Himpunan Ahli Pembangkitan Tenaga Listrik Indonesia (HAKIT) baru-baru ini menyelenggarakan diskusi panel yang bertajuk “Peluang dan Tantangan Pengembangan Ekosistem Battery, Electrical Vihicle dan Solar PV Rooftop di Indonesia.” Diskusi yang menghadirkan narasumber dari kementerian Eergi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) dan sejumlah pakar kelistrikan ini menyoroti pengembangan dan penarapan teknologi battery listrik, kendaraan listrik dan solar sel yang belakangan ini makin banyak digunakan oleh masyarakat. Ketua Umum HAKIT, Supangkat Iwan Santoso menyebutkan bahwa ke depan, listri dengan storage battery ini sudah banyak dipasang di pulaupulau terpencil di Indonesia. Contohnya di Nusa Tenggara TImur, ada 28 pulau dari 36 pulau yang sudah mengoperasikan listrik dari solar PV Rooftop dan disimpan dengan battery. Hasilnya menurut Supangkat sangat bagus. Di beberapa pulau lainnya pun demikian seperti di gugusan pulau Kangean dan Kepulauan Maluku. Ini menunjukkan betapa pentingnya peran battery.

Hari ini, di pulau-pulau tersebut listrik menggunakan solar panel, disimpan dalam battery kemudian disalurkan dan didistribusikan. Tentunya ini sudah lebih murah biayanya dibandingkan dengan yang biasanya menggunakan disel mandiri. “Dengan adanya battery, ke depan saya kira akan menjadi tantangan baru karena dengan battery yang semakin murah, solar panel yang semakin murah, listrik di rumahrumah juga akan semakin murah”, ungkap Iwan dalam sambutan pembuka diskusi yang dilangsungkan secara daring di Jakarta, Kamis (20/05/21).

Sementara itu, Dirjen Energi Baru Tebarukan dan Konservasi Energi, Dadan Kusdiana yang mewakili pemerintah menyampaikan sejumlah poin penting terkait dengan komitmen dan kebijakan pemerintah tentang sektor energi menuju net zero emition. Beberapa tindakan yang hendak dilakukan untuk mewujudkan komitmen nasional 2021-2050 adalah melaksanakan aksi konkrit perubahan iklim melalui moratorium konversi hutan dan lahan gambut menurunkan kebakaran hutan hingga 82%, mendorong green development melalui pengembangan green industrial seluas 12.500 ha di Kalimantan Utara, membuka investasi terhadap transisi energi melalui pengembangan biofuel industry, lithium dan kendaraan listrik.

Dadan juga mengukapkan tentang bauran EBT dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) 2020-20230. Dalam paparannya dikatakan bahwa bauran EBT tahun 2020 sebesar 11.2% dan ditargetkan tahun 2030 sebesar 28 %. Kontribusi penurunan emisi GRK tahun 0202 sebesar 64.36 juta ton CO2e dan tahun 2030 sebesar 314 juta ton CO2e. Lebih lanjut dikatakan bahwa penurunan emisi didorong melalu aksi konkrit berupa penyediaan listrik melalu pembangkit EBT, penerapan efisiensi energi dan penggunaan bahan bakar na-bati, implementasi cofiring biomassa untuk mengurangi konsumsi batu bara PLTU, pemanfaatan kendaraan listrik dan transisi menuju bahan bakar rendah karbon dan teknologi pembangkit bersih.

Dalam upaya melakukan transisi energi, Dadan menjelaskan ada beberapa tahap untuk melakukannya. “Jadi kombinasi antara percepatan EBT, penggunaan kendaraan listrik dan peralatan listrik nanti serta didukung penggunaan teknologi atau melakukan prinsip-prinsip efisiensi energi adalah transisi energi yang sedang dijalankan oleh teman-teman kementerian ESDM”, tandasnya. Dalam kesempatan diskusi tersebut, Rektor IT-PLN Prof. Dr. Iwa Garniwa menyampaikan beberapa pandangan terkait dengan topik utama. Hal yang disampaikan lebih kepada tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah menyangkut penerapan teknologi battery dan kendaraan listrik di Indonesia.

Iwa menanyakan sejumlah hal yang menurutnya menjadi tantangan tersendiri dan perlu dipikirkan oleh pemerintah. Seperti kendaraan listrik untuk kondisi iklim tropis di Indonesia sudah handal, apakah infrastruktur sudah terpenuhi untuk mendukung penerapan kendaraan listrik. Menurutnya transisi ke kendaraan listrik juga berhubungan dengan perilaku pengguna di Indonesia. Ada 117 juta kendaraan roda dua dan 23 juta kendaraan roda empat saat ini. Bagaimana nasib ratusan juta kendaraan tersebut bila ingin melakukan transisi ke kendaraan listrik. Artinya kendaraan tersebut tidak secara otomatis hilang melainkan bisa dikonversikan menjadi kendaraan listrik.

Iwa juga menyoroti kesiapan masyarakat tentang kendaraan listrik. Mengingat masyarakat dan wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga perlu dipahami juga kendaraan jenis apa yang cocok dikembangkan di Indonesia. Semua itu menjadi tantangan yang perlu dipikirkan secepatnya oleh pemerintah agar kebijakan yang dibuat bisa menjadi solusi yang tepat bagi masyarakat sesuai dengan kearifan lokalnya.

Diskusi panel ini diikuti lebih dari 500 orang dan dihadiri juga Dahlan Iskan (Menteri BUMN 2011-2014), Direktur Mega Proyek EBT PT. PLN (Persero), Komisaris UTama PT. IBC dan Dewan Pakar HAKIT Kartawan Muchtar. (red)

You May Also Like

Seminar Online: Penulisan dan Publikasi Artikel Ilmiah di Jurnal Internasional Terindex Scopus

Sinergimas - Salah satu kegiatan dalam tridarma perguruan tinggi, adalah hasil penelitian dan PkM

Webinar Electrical Knowledge Dampak Harmonisa Terhadap Kinerja Peralatan Listrik

Sinergimas - Masyarakat awam tentu tidak memahami apa itu harmonisa atau harmonik. Istilah ini lazimnya

Webinar AIoTech: Teknologi Kecerdasan Buatan dan Internet of Things untuk Pertanian 4.0

Sinergimas - Kehadiran AIoTech StarUp membawa dampak positif bagi pengembangan Kecerdasan

About Us

Menara PLN, Jl. Lkr. Luar Barat, RT.1/RW.1, Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11750

(021) 5440342

sinergimas@itpln.ac.id dan redaksisinergimas@gmail.com

Contact Us

newspaper logo

Follow us at: